Cinta Serupa Lamunan Lelaki Di Rumah Susun;
Inginkan Telaga Warna Di luar Jendela
Pada helai-helai daun yang berjatuhan di hatimu, kesedihan yang manis menyentuhku seperti musim gugur
menembus kabut, serupa cahaya, berpendar, aku di dalam cinta
mari bergembira, cinta; seperti dalam lagu balonku ada lima. ketika warna hijau pecah, tawa kita meletus ke udara
Lalu pada senja, kita dua cahaya yang memantik sepasang angan; semoga malam senantiasa dipenuhi kerinduan
Kesakitan ini sayang, tak seberapa. Dibandingkan kecemasanmu, yang kau sembunyikan setiap kau suapkan OBAT.
Jika cinta bertepuk sebelah tangan, terus saja ayunkan, berdansalah dengan harapan..
di senyum lelaki itu, kau mengecipak. masa lalu, ternyata tak lebih dekat dari bulan sabit di permukaan kolam.
barangkali yang disebut cinta buta, ialah ketika kau melempar jaring ke udara dan tak menangkap apaapa, selain bahagia.
Aku, awan yang kaucari-cari itu; yang selalu memberimu teduh kala siang hari.
Aku ingin menjadi karang, penjaga tegak mimpimu, penahan segala debur gelisah di dadamu.
Akhirnya cinta itu menghukum kami: dengan ciuman ciuman tak terduga.
Tuhan memberimu kecantikan. Tapi kamu lebih suka merias bayangan.
Secangkir kopi tumpah dari matamu, membuat mataku terjaga sepanjang hayat
rindu ini memberiku sayap, mengajakku terbang pada tepian ingatan, lalu hinggap di reranting masa lalu.
karena kenangan itu tak berkaki, sayang, tolong beri tahu aku, bagaimana cara yang benar untuk melangkah dari masa lalu.
Aku, ampas kopi yang mengendap, sepanjang waktu berusaha memisahkan benci dan cinta di ceruk hidupmu.
Tanpa cinta, dada kita tinggal rongga-rongga hampa. Dan tanpa sajak, aku tak bisa mencintaimu sempurna
Cinta serupa lamunan lelaki dirumah susun; inginkan telaga warna di luar jendela..
Selamat datang di Kelas Kenangan, tak perlu mencatat. Semua sudah ada di ingatan, kata masasilam, memulai pelajaran
Kamu Cinta Fitri, aku Kemilau cinta Karmila.. Bagaimana bisa menyatu bila kita berada di channel yg berbeda
selain cinta, hidup hanyalah tentang melawan usia, bertahan dari sakit, dan kematian: yang tak menggetarkan apa-apa.
Sajadah ini tahu; sedalam apa sujudku mendo'akanmu.
Pagi ini kopi yang kusesap terasa getir, entah aku kurang menambah gula, atau karena senyummu yang tidak hadir dalam sapaku.
Empat setengah persen alkohol di dalam botol; ia menarinari merayakan kita, yaitu aku, kau, dan bir yang maha tolol. ~
Bersyukurlah, dengan, rasa sakit yg kita nikmati. dengan, rasa bahagia yg kita khidmati
Teruslah membungkam, lalu kembalilah menghilang, aku takkan lagi berlari mengejarmu, cintamu ketiadaan untukku.
Tak ada yang terlalu cepat atau lambat. Karena cinta datang dan pergi, pada saat yang tepat. Saat kau tak siap.
mungkin, menggugurkan dedaunan, adalah cara pepohonan, menyampaikan sesuatu yang begitu sulit dibahasakan
Kenangan, mampirlah sesering kau bisa, aku suka rasa sakit saat kau menetes pada luka
Thanks ;)








EmoticonEmoticon